Kamis, 25 Februari 2016

Pewarnaan Batik Secara Alami dan Sintetis




Di Indonesia peradaban batik telah dikenal sejak jaman kerajaan. Dalam catatan sejarah batik telah dikenal sejak abad ke-13. Di masa lampau pembuatan batik sangatlah tradisional, dimulai dari proses pembatikan hingga proses pewarnaannya.
Untuk menghasilkan sebuah batik (khususnya batik tulis) diperlukan proses yang panjang. Sebelum memasuki era kemajuan teknologi, tiap proses pembatikan hingga pewarnaan dilakukan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.
Pada awalnya proses pewarnaan batik berasal dari tumbuhan, di antaranya; daun-daunan, buah, kulit kayu,  getah kayu, dan akar pohon. Untuk mendapatkan warna yang diinginkan, bahan-bahan alami tersebut  melalui proses ektrak/ diambil warna alaminya dengan cara ditumbuk maupun dimasak.
Bahan-bahan yang telah dikenal sebagai penghasil warna alami antara lain:
·         Daun teh, menghasilkan warna coklat
daun teh, pewarna alami batik
·         Buah pinang, menghasilkan warna merah
·         Tanaman perdu indigo, menghasilkan warna biru
·         Daun suji, menghasilkan warna hijau
·         Kunyit, menghasilkan warna kuning
·         Kulit kayu pinus, menghasilkan warna coklat
·         Getah gambir, menghasilkan warna merah
·         Akar pohon mengkudu, menghasilkan warna merah kecoklatan

Seiring perkembangan jaman, dengan alasan kepraktisan proses pewarnaan alami mulai ditinggalkan oleh perajin batik. Mulailah dikenal pewarnaan sintetis, yakni zat pewarna yang dibuat atau disintetiskan melalui proses kimia. Zat pewarna sintetis memiliki ragam
buah pinang, pewarna alami batik
warna yang bervariatif. Selain itu penggunaan pewarna sintetis dipilih demi mempersingkat waktu pengerjaan batik itu sendiri. Baca juga proses pembuatan batik
Berikut kelebihan dan kekurangan antara pewarna alami dan sintetis:
·         Zat pewarna alami berasal dari bahan-bahan yang ramah lingkungan, kandungan dalam bahan alami sangat jarang sekali mengakibatkan alergi kulit, sedangkan kekurangannya adalah proses ektraksi yang panjang dan warnanya terbatas.
·         Zat pewarna sintetis memiliki kelebihan ragam warna yang kaya. Warnanya tajam dan mengikat dalam serat batik, sedangkan kekurangannya adalah dibuat dari proses kimiawi yang kurang ramah lingkungan.
Baik pewarnaan alami maupun sintetis dalam perawatannya batik sama-sama memerlukan perlakuan khusus baca tips merawat bati kesayangan. Perawatan yang baik akan menjadikan batik anda awet dan terjaga warnanya. Semoga artikel tentang pewarnaan batik bisa bermanfaat bagi pembaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar